Selasa, 23 Desember 2014

Sendiri. Lagi.


Tulus - Kisah Sebentar


Denganmu senang hati terasa
Bangun dari mimpiku tahu aku tak sendiri
Matahari pun serasa lebih cerah
Dengan kecup manismu ku mulai melangkah

Ku nikmati tiap detikku dengan namamu di hatiku
Ku rasa bahagia dan hati berbunga-bunga
Kau buatku tergila-gila, tunduk hati aku setia
Selayaknya sihir kau buatku terjatuh

Tapi tak berlangsung lama
Kau tinggalkan aku
Kau pergi berjejak tanya

Ayo ingat kata-katamu
Kau tak akan tinggalkan aku
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku

Ayo ingat kata-katamu
Sayang cinta kamu segalanya
Ayo ingat kata-katamu
Selamanya kamu hanya untuk aku


Sepenggal lirik di atas mewakili kisah cinta gue. Sepertinya.


Hahaha, bahkan gue belum sempat membuat catatan kebahagian gue sama dia sebluan yang lalu. Dan sekarang gue udah sendiri. Lagi.

Sekitar satu bulan yang lalu, gue baru aja kembali merasakan indahnya jatuh cinta, merasakan betapa menyenangkannya memiliki seseorang dalam hidup gue. Melengkapi kebahagian gue.


You gave me your word. You filled me with hope and security. You told me the things I needed to hear to take the change and make the jump with you. You made me feel like I was worth it, I was who you wanted.

Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, dia pergi ninggalin gue. Bukan tanpa alasan sih, dengan sangat jelas gue mendengar alasan dia memilih untuk pergi dari kehidupan gue. Yah, kita berdua nggak cocok.

Well,  karakter kita berdua emang jauh beda, dan mungkin memerlukan usaha yang banyak kalo kita berdua memilih untuk melanjutkan hubungan ini. Tapi bukankah "there is no perfect couple at the begining?"




Bukan kah cerita dari gambar diatas mengajarkan kita bahwa tidak ada pasangan yang sempurna pada awalnya? Setiap pasangan pasti punya perbedaan, entah itu karakter, cara pandang, cara berfikir, cara mengatasi suatu masalah, cara menahan emosi, cara mengutarakan pendapat, bahkan ke hal-hal kecil seper cara makan, cara minum, cara ngomong, cara ngambek, semua pasangan pasti punya perbedaan. Yang membedakan hanyalah, seberapa besar perbedaan itu dan seberapa besar pasangan itu mau saling berjuang untuk bertahan?

Jauh di lubuk hati gue, gue belum bisa menerima alasan itu. Gue nggak bisa memungkiri bahwa pada kenyataannya gue berharap sangat besar sama hubungan ini. Berharap bahwa gue nggak akan kecewa lagi seperti sebelumnya. Berharap gue bisa benar benar kembali menata hati gue yang sempat hancur berkeping-keping. Benar benar di lambung oleh harapan yang tinggi, sehingga tidak siap di hempas kekecewaan yang datang tiba tiba.

You shattered that all quite well. You couldn't take it anymore. You turned around and left me falling without you. You promised me you wouldn't. But you did. You left me. And you gave up on us.

Pada akhirnya gue kecewa. Lagi. Entah untuk yang kesekian kali. Dan saat ini gue harus menata hati kembali. Berusaha berdamai dengan rasa sakit hati untuk yang kesekian kali nya. Gue lelah dengan perkenalan, lelah dengan proses adaptasi, lelah dengan kata selamat tinggal, lelah dengan kegagalan, dan lelah menikmati kehilangan. Cukup sudah gue merasakan indah nya jatuh cinta jika pada akhirnya gue harus merasakan sakitnya putus cinta. Mengulang dari awal lagi semuanya, bukan lah hal yang mudah. Betapa lucunya urusan perasaan ini. Bagaimana tidak?

Semua rasa sakit hati karena putus cinta semuanya juga diawali oleh jatuh cinta yang menyenangkan.

Menangis semalaman setelah kita memutuskan untuk berpisah. Entah ada berapa ribu ember air mata. A broken heart is the worst, it's like having broken ribs, I cannot see it but it hurts everytime I breathe. Sulit rasanya buat gue menerima kenyataan, karena sejujurnya gue ngerasa bahwa alasan kita berpisah ini seharusnya masih bisa di pertahankan. Yah, gue hanya tidak habis pikir kenapa ini semua harus terjadi dengan begitu cepatnya.

" Do you ever see a picture of someone that you used to be close to and you just remember every thing you did together and all the things you said you would do together, all the late night conversations or phone calls and remember all the good things and bad things both of you have been through together but then you remember that they're now just a memory and they're not in your life anymore ?"

I gave you my heart, I just didn't expect to get it back in pieces




Rabu, 01 Oktober 2014

My Last 20

Well, this is the last day I turned 20, besok umur gue 21 guys. DUA PULUH SATU TAHUN!

Ya Allah, berasa makin tua. Banget.


Dari seluruh pergantian umur yang pernah gue alamin, umur yang ke 20 ini adalah umur yang penuh dengan kejutan, penuh dengan pelajaran, penuh dengan hal-hal yang sama sekali tidak terduga, tidak pernah gue bayangkan.

Gue bahkan sama sekali nggak nyangka, betapa satu tahun kebelakang ini gue mengalami hal-hal yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya. Throw back last year, di umur gue yang ke 20 ini gue mengalami banyak sekali kehilangan, kehilangan seseorang lebih tepatnya. 

Kehilangan yang pertama bahkan hanya berjarak satu bulan setelah gue merayakan ulang tahun gue yang ke 20. Gue kehilangan (sebut saja dia Mawar). Pacar gue (the best I ever had, I think). Gue putus sama Mawar tanggal 7 November lalu, pas banget kita lagi ngerayain 1st Aniversary kita. Miris? Banget, gue juga rasanya mau terjun dari atas gedung kalo inget saat-saat menyedihkan itu. Kenapa gue putus? Penyebabnya tak terduga, karna tepat seminggu sebelum gue merayakan hari jadi gue yang pertama sama Mawar, ada seorang laki-laki bernama (sebut saja dia Melati) yang ngelamar gue! Laki-laki matang berumur 30 tahun-an, mapan, pinter, dan sholeh pula dengan tanpa di duga meminta gue untuk menjadi istrinya. OH MY GOD! Perempuan mana sih yang nggak melting perasaanya? Boleh di bilang dia adalah pria idaman yang cocok sebagai seorang suami, dan dia ngelamar gue. NGELAMAR GUE! Pada saat itu gue rasanya kaya kesamber geledeg, gue masih sayang, banget sama Mawar. Tapi pada saat itu gue merasa kalo sama Mawar, masa depan gue masih abu-abu, kita belom ada pembicaraan serius ke arah membangun rumah tangga, just let it flow karena kita juga masih umur 20an. Sedangkan saat itu, gue merasa Melati menjajikan masa depan yang sudah jelas di depan mata, dia nggak mau pacaran, tapi dia pengen serius membangun rumah tangga bersama gue. Jderrrrr! Kalo lo jadi gue, lo bakalan gimana? Gue rasa kebanyakan perempuan juga akan memilih satu hal yang pasti. Well, pada akhirnya gue memilih Melati ketimbang Mawar, walaupun pada dasarmya gue masih sangat menyayangi Mawar. Tapi buakankah hidup itu pilihan?

Di pertengahan umur gue yang ke 20, Kehilangan gue yang berikutnya adalah kehilangan Melati sebagai calon suami gue. Menyedihkan? Oh really, you will not fell anything like this. Setelah gue memutuskan untuk menikah, di usia gue yang masih muda ini, seperti selayaknya orang-orang yang mau menikah gue melakukan prosesi perkenalan keluarga, lamaran, nyari gedung, nyari baju pengantin, nyari tanggal, dan ketika semua persiapan hampir rampung sekitar 60%, pernikahan gue gagal. Tepat sekitar 4 bulan menjelang hari pernikahan, Gue sama Melati putus gitu aja. 2 Bulan terakhir setelah persiapan pernikahan gue sama Melati kita sering banget cek-cok, banyak banget yang ternyata sangat berbeda diantara kami berdua, dan sepertinya memang kita nggak bisa ngelanjutin rencana pernikahan ini. 

Kecewa? Banget. Dan yang kecewa tidak hanya kita berdua, tapi keluarga kita juga sangat kecewa tentunya. Kabar pernikahan gue sama Melati bahkan sudah sampai hampir ke seluruh keluarga besar kami berdua. Rasanya gimana? Campur aduk, sedih udah pasti, malu, kecewa, entah apapun segala rasa sakit kayanya jadi satu. Bisa bayangin nggak, udah lamaran keluarga, udah cari gedung, udah dapet tanggal, udah fitting baju, terus ya udah, hilang gitu aja jadi abu.

Meyesal? Sangat menyesal, terlebih untuk mewujudkan pernikahan tersebut gue harus mengalami kehilangan yang teramat sangat menyakitkan. Tapi gue sadar, gue nggak punya hak sama sekali untuk menyesal, karna gue sendiri yang memilih jalan seperti ini.

Dari kedua kehilangan ini, gue sangat sangat belajar banyak. Banyak. Banget.
Tapi diumur gue yang ke 20 ini, gue juga mendapat banyak sekali kejutan menyenangkan, contohnya sebelumnya gue nggak pernah ngebayangin bisa liburan ke luar negri, tapi tahun ini, diumur gue yang ke 20 gue bisa liburan dan jalan-jalan keliling Thailand! Wohooooo! Nyenengin banget punya pengalaman seminggu penuh jalan-jalan keliling Thailand, dan itu Gratis! Hahaha! Rejeki anak Sholeh yeee…

Selain itu juga banyak kebahagian-kebahagian kecil yang membantu gue melewati masa-masa sulit di umur ke 20 gue ini, terlebih gue punya keluarga sangat support gue, dan always listening and always understading keadaan gue! 

Di fase-fase ini gue belajar, keluarga itu seperti rumah, tempat kita kembali pulang. Tepat berkeluh kesah dikala kita lelah dengan kehidupan yang begitu jahat sama kita, tempat ke 2 yang bisa kita andalkan setelah tuhan. 

Dan, gue belajar, bahwa orang yang membuat kita kagum, belum tentu bisa membuat kita nyaman. 


Belajar bahwa apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai, apa yang kita perbuat, ya itu yang kita dapet. Gue pernah meninggalkan seseorang, dan pada akhirnya gue ditinggalkan. 

Dibukain matanya lebar-lebar sama Allah, mana yang beneran temen, mana yang temen bohongan. Dari semua kehilangan, rasa sakit hati dan kekecewaan gue, gue sangat bersyukur dan berterima kasih sama Allah, karena telah mengajarkan pelajaran yang sangat berharga. 

I asked for strength and Allah give me difficulties to make me Strong. Well, I became stronger than before.


Isn’t it crazy how I look back a year ago, and realize how much everything has changed? The amount of people that have left my life, entered, and stayed. The memories I won’t forget and the moment I wish I did. Everything. It’s crazy how all that happened in just one year?