Well, this is the last day I turned 20, besok umur gue 21 guys. DUA PULUH SATU TAHUN!
Ya Allah, berasa makin tua. Banget.
Dari seluruh pergantian umur yang pernah gue alamin, umur yang ke 20
ini adalah umur yang penuh dengan kejutan, penuh dengan pelajaran, penuh
dengan hal-hal yang sama sekali tidak terduga, tidak pernah gue bayangkan.
Gue bahkan sama sekali nggak nyangka, betapa satu tahun
kebelakang ini gue mengalami hal-hal yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya. Throw back last year, di umur gue yang ke 20 ini gue mengalami banyak sekali
kehilangan, kehilangan seseorang lebih tepatnya.
Kehilangan yang pertama bahkan
hanya berjarak satu bulan setelah gue merayakan ulang tahun gue yang ke 20. Gue
kehilangan (sebut saja dia Mawar). Pacar gue (the best I ever had, I think). Gue putus sama Mawar tanggal 7 November lalu, pas banget kita lagi ngerayain 1st
Aniversary kita. Miris? Banget, gue juga rasanya mau terjun dari atas gedung kalo inget saat-saat menyedihkan itu. Kenapa
gue putus? Penyebabnya tak terduga, karna tepat seminggu sebelum gue merayakan hari jadi
gue yang pertama sama Mawar, ada seorang laki-laki bernama (sebut saja dia Melati) yang ngelamar
gue! Laki-laki matang berumur 30 tahun-an, mapan, pinter, dan sholeh pula dengan
tanpa di duga meminta gue untuk menjadi istrinya. OH MY GOD! Perempuan mana sih
yang nggak melting perasaanya? Boleh di bilang dia adalah pria idaman yang
cocok sebagai seorang suami, dan dia ngelamar gue. NGELAMAR GUE! Pada saat itu
gue rasanya kaya kesamber geledeg, gue masih sayang, banget sama Mawar. Tapi pada
saat itu gue merasa kalo sama Mawar, masa depan gue masih abu-abu, kita belom
ada pembicaraan serius ke arah membangun rumah tangga, just let it flow karena
kita juga masih umur 20an. Sedangkan saat itu, gue merasa Melati menjajikan masa
depan yang sudah jelas di depan mata, dia nggak mau pacaran, tapi dia pengen
serius membangun rumah tangga bersama gue. Jderrrrr! Kalo lo jadi gue, lo
bakalan gimana? Gue rasa kebanyakan perempuan juga akan memilih satu hal yang
pasti. Well, pada akhirnya gue memilih Melati ketimbang Mawar, walaupun pada dasarmya gue masih sangat menyayangi Mawar. Tapi buakankah hidup itu pilihan?
Di pertengahan umur gue yang ke 20, Kehilangan gue yang berikutnya
adalah kehilangan Melati sebagai calon suami gue. Menyedihkan? Oh really, you
will not fell anything like this. Setelah gue memutuskan untuk menikah, di usia
gue yang masih muda ini, seperti selayaknya orang-orang yang mau menikah gue
melakukan prosesi perkenalan keluarga, lamaran, nyari gedung, nyari baju
pengantin, nyari tanggal, dan ketika semua persiapan hampir rampung sekitar
60%, pernikahan gue gagal. Tepat sekitar 4 bulan menjelang hari pernikahan, Gue
sama Melati putus gitu aja. 2 Bulan terakhir setelah persiapan pernikahan gue
sama Melati kita sering banget cek-cok, banyak banget yang ternyata sangat
berbeda diantara kami berdua, dan sepertinya memang kita nggak bisa ngelanjutin
rencana pernikahan ini.
Kecewa? Banget. Dan yang kecewa tidak hanya kita
berdua, tapi keluarga kita juga sangat kecewa tentunya. Kabar pernikahan gue sama Melati bahkan sudah sampai hampir ke seluruh keluarga besar kami berdua. Rasanya
gimana? Campur aduk, sedih udah pasti, malu, kecewa, entah apapun segala rasa
sakit kayanya jadi satu. Bisa bayangin nggak, udah lamaran keluarga, udah cari
gedung, udah dapet tanggal, udah fitting baju, terus ya udah, hilang gitu aja
jadi abu.
Meyesal? Sangat menyesal, terlebih untuk mewujudkan pernikahan
tersebut gue harus mengalami kehilangan yang teramat sangat menyakitkan. Tapi
gue sadar, gue nggak punya hak sama sekali untuk menyesal, karna gue sendiri
yang memilih jalan seperti ini.
Dari kedua kehilangan ini, gue sangat sangat belajar banyak.
Banyak. Banget.
Tapi diumur gue yang ke 20 ini, gue juga mendapat banyak
sekali kejutan menyenangkan, contohnya sebelumnya gue nggak pernah ngebayangin
bisa liburan ke luar negri, tapi tahun ini, diumur gue yang ke 20 gue bisa
liburan dan jalan-jalan keliling Thailand! Wohooooo! Nyenengin banget punya
pengalaman seminggu penuh jalan-jalan keliling Thailand, dan itu Gratis!
Hahaha! Rejeki anak Sholeh yeee…
Selain itu juga banyak kebahagian-kebahagian kecil yang
membantu gue melewati masa-masa sulit di umur ke 20 gue ini, terlebih gue punya
keluarga sangat support gue, dan always listening and always understading
keadaan gue!
Di fase-fase ini gue belajar, keluarga itu seperti rumah, tempat kita kembali pulang. Tepat berkeluh kesah dikala kita lelah dengan kehidupan yang begitu jahat sama kita, tempat ke 2 yang bisa kita andalkan setelah tuhan.
Dan, gue belajar, bahwa orang yang membuat kita kagum, belum tentu bisa membuat kita nyaman.
Belajar bahwa apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai, apa yang kita perbuat, ya itu yang kita dapet. Gue pernah meninggalkan seseorang, dan pada akhirnya gue ditinggalkan.
Dibukain matanya lebar-lebar sama Allah, mana
yang beneran temen, mana yang temen bohongan. Dari semua kehilangan, rasa sakit
hati dan kekecewaan gue, gue sangat bersyukur dan berterima kasih sama Allah,
karena telah mengajarkan pelajaran yang sangat berharga.
I asked for strength and Allah give me difficulties to make me Strong. Well, I became stronger than before.
Isn’t it crazy how I look back a year ago, and realize how
much everything has changed? The amount of people that have left my life,
entered, and stayed. The memories I won’t forget and the moment I wish I did. Everything.
It’s crazy how all that happened in just one year?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar