Rabu, 01 Oktober 2014

My Last 20

Well, this is the last day I turned 20, besok umur gue 21 guys. DUA PULUH SATU TAHUN!

Ya Allah, berasa makin tua. Banget.


Dari seluruh pergantian umur yang pernah gue alamin, umur yang ke 20 ini adalah umur yang penuh dengan kejutan, penuh dengan pelajaran, penuh dengan hal-hal yang sama sekali tidak terduga, tidak pernah gue bayangkan.

Gue bahkan sama sekali nggak nyangka, betapa satu tahun kebelakang ini gue mengalami hal-hal yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya. Throw back last year, di umur gue yang ke 20 ini gue mengalami banyak sekali kehilangan, kehilangan seseorang lebih tepatnya. 

Kehilangan yang pertama bahkan hanya berjarak satu bulan setelah gue merayakan ulang tahun gue yang ke 20. Gue kehilangan (sebut saja dia Mawar). Pacar gue (the best I ever had, I think). Gue putus sama Mawar tanggal 7 November lalu, pas banget kita lagi ngerayain 1st Aniversary kita. Miris? Banget, gue juga rasanya mau terjun dari atas gedung kalo inget saat-saat menyedihkan itu. Kenapa gue putus? Penyebabnya tak terduga, karna tepat seminggu sebelum gue merayakan hari jadi gue yang pertama sama Mawar, ada seorang laki-laki bernama (sebut saja dia Melati) yang ngelamar gue! Laki-laki matang berumur 30 tahun-an, mapan, pinter, dan sholeh pula dengan tanpa di duga meminta gue untuk menjadi istrinya. OH MY GOD! Perempuan mana sih yang nggak melting perasaanya? Boleh di bilang dia adalah pria idaman yang cocok sebagai seorang suami, dan dia ngelamar gue. NGELAMAR GUE! Pada saat itu gue rasanya kaya kesamber geledeg, gue masih sayang, banget sama Mawar. Tapi pada saat itu gue merasa kalo sama Mawar, masa depan gue masih abu-abu, kita belom ada pembicaraan serius ke arah membangun rumah tangga, just let it flow karena kita juga masih umur 20an. Sedangkan saat itu, gue merasa Melati menjajikan masa depan yang sudah jelas di depan mata, dia nggak mau pacaran, tapi dia pengen serius membangun rumah tangga bersama gue. Jderrrrr! Kalo lo jadi gue, lo bakalan gimana? Gue rasa kebanyakan perempuan juga akan memilih satu hal yang pasti. Well, pada akhirnya gue memilih Melati ketimbang Mawar, walaupun pada dasarmya gue masih sangat menyayangi Mawar. Tapi buakankah hidup itu pilihan?

Di pertengahan umur gue yang ke 20, Kehilangan gue yang berikutnya adalah kehilangan Melati sebagai calon suami gue. Menyedihkan? Oh really, you will not fell anything like this. Setelah gue memutuskan untuk menikah, di usia gue yang masih muda ini, seperti selayaknya orang-orang yang mau menikah gue melakukan prosesi perkenalan keluarga, lamaran, nyari gedung, nyari baju pengantin, nyari tanggal, dan ketika semua persiapan hampir rampung sekitar 60%, pernikahan gue gagal. Tepat sekitar 4 bulan menjelang hari pernikahan, Gue sama Melati putus gitu aja. 2 Bulan terakhir setelah persiapan pernikahan gue sama Melati kita sering banget cek-cok, banyak banget yang ternyata sangat berbeda diantara kami berdua, dan sepertinya memang kita nggak bisa ngelanjutin rencana pernikahan ini. 

Kecewa? Banget. Dan yang kecewa tidak hanya kita berdua, tapi keluarga kita juga sangat kecewa tentunya. Kabar pernikahan gue sama Melati bahkan sudah sampai hampir ke seluruh keluarga besar kami berdua. Rasanya gimana? Campur aduk, sedih udah pasti, malu, kecewa, entah apapun segala rasa sakit kayanya jadi satu. Bisa bayangin nggak, udah lamaran keluarga, udah cari gedung, udah dapet tanggal, udah fitting baju, terus ya udah, hilang gitu aja jadi abu.

Meyesal? Sangat menyesal, terlebih untuk mewujudkan pernikahan tersebut gue harus mengalami kehilangan yang teramat sangat menyakitkan. Tapi gue sadar, gue nggak punya hak sama sekali untuk menyesal, karna gue sendiri yang memilih jalan seperti ini.

Dari kedua kehilangan ini, gue sangat sangat belajar banyak. Banyak. Banget.
Tapi diumur gue yang ke 20 ini, gue juga mendapat banyak sekali kejutan menyenangkan, contohnya sebelumnya gue nggak pernah ngebayangin bisa liburan ke luar negri, tapi tahun ini, diumur gue yang ke 20 gue bisa liburan dan jalan-jalan keliling Thailand! Wohooooo! Nyenengin banget punya pengalaman seminggu penuh jalan-jalan keliling Thailand, dan itu Gratis! Hahaha! Rejeki anak Sholeh yeee…

Selain itu juga banyak kebahagian-kebahagian kecil yang membantu gue melewati masa-masa sulit di umur ke 20 gue ini, terlebih gue punya keluarga sangat support gue, dan always listening and always understading keadaan gue! 

Di fase-fase ini gue belajar, keluarga itu seperti rumah, tempat kita kembali pulang. Tepat berkeluh kesah dikala kita lelah dengan kehidupan yang begitu jahat sama kita, tempat ke 2 yang bisa kita andalkan setelah tuhan. 

Dan, gue belajar, bahwa orang yang membuat kita kagum, belum tentu bisa membuat kita nyaman. 


Belajar bahwa apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai, apa yang kita perbuat, ya itu yang kita dapet. Gue pernah meninggalkan seseorang, dan pada akhirnya gue ditinggalkan. 

Dibukain matanya lebar-lebar sama Allah, mana yang beneran temen, mana yang temen bohongan. Dari semua kehilangan, rasa sakit hati dan kekecewaan gue, gue sangat bersyukur dan berterima kasih sama Allah, karena telah mengajarkan pelajaran yang sangat berharga. 

I asked for strength and Allah give me difficulties to make me Strong. Well, I became stronger than before.


Isn’t it crazy how I look back a year ago, and realize how much everything has changed? The amount of people that have left my life, entered, and stayed. The memories I won’t forget and the moment I wish I did. Everything. It’s crazy how all that happened in just one year? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar